Kamis, 21 April 2011

Tugas dan Peran Nabi Muhammad saww


Tugas rasul, sebagaimana termaktub dalam berbagai kitab adalah untuk menyelamatkan manusia dari melampaui ketentuan-ketentuan Allah Swt. Karena dengan nafsu duniawi yang dimilikinya, manusia memiliki kecenderungan untuk melampaui ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah Swt atas makhluknya. Hal yang mubah saja, jika dilanggar, pasti akan membawa mudharat bagi manusia. Makan, misalkan, kita dianjurkan untuk makan secukupnya; makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Dalam Al Qur’an Suci surat Al A’raaf: 157, Tuhan berfirman;
orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi, yang (namanya) tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban dan belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman padanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al A’raaf [7]: 157)
Maka jika manusia mengimani  Muhammad, yang harus dilakukannya adalah sebagaimana tertulis dalam ayat tersebut; mengikuti rasul, taat kepada rasul, memuliakan, menolong dan mengikuti rasul.
Allah Swt juga berfirman dalam surat Al Anfal: 26;
Dan ingatlah saat kamu berjumlah sedikit dan tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang (Mekah) menculikmu. Maka Allah memberi tempat (Madinah) dan menguatkanmu dengan pertolonganNya dan diberiNya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur. (Q.S. Al Anfaal [8]: 26)
Keimanan kepada para utusan Allah Swt meniscayakan keimanan kepada Allah Swt, sehingga Ia – dengan berkah kenabian - menyelamatkan mereka yang sedikit itu agar mereka bersyukur kepada Allah Swt, bersyukur atas nikmat kenabian Muhammad saww, karena kenabian beliau saww adalah cahaya ilmu yang bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari kebodohan dan kegelapan.
Rasulullah saww hadir di tengah kaum jahiliyah yang menyembah berhala buatannya sendiri, yang membanggakan kesesatan, memuliakan mustakbirin, menghina mustadh’afin, ashabiyah yang tinggi dan merendahkan martabat perempuan. Dalam kondisi seperti itu beliau diutus dengan membawa lentera cahaya pengetahuan ilahiyah, untuk menerangi manusia, membagi cahaya itu sehingga manusia mengetahui kebenaran. Muhammad saww diutus untuk menuntun manusia dari lembah gelap menuju cahaya, yang dengannya manusia mengenal hakikat kemakhlukannya.
Oleh karena itu, sebagai pecinta dan pengikut setia Rasulullah saww, kita wajib bersyukur atas kenabian Muhammad saww.
Dalam Al Quran Majid, surat Ali Imran: 64, Allah Swt berfirman;

Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Q.S. Ali Imran [3]: 64)
Juga dalam surat An Nisaa’: 75;

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (Q.S. An Nisaa’ [4]: 75)
Dua ayat suci di atas memperlihatkan bahwa tugas Rasululah saww adalah untuk menyelamatkan manusia dari kezhaliman dan perselisihan.
Tugas selanjutnya para rasul adalah untuk mengajak manusia kepada ajaran tauhid dan menjauhi penyembahan terhadap thagut. Di dalam surat An Nahl: 36, Allah Swt berfirman;

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. An Nahl [16]: 36)
Thagut adalah orang-orang yang melampaui batas, yang menyerupakan dirinya dengan Tuhan, yang dengan kekuasaan dan kekuatannya menginginkan manusia tunduk, taat, dan takut padanya. Merekalah para mustakbirin, tiran yang zhalim dan despotis walaupun terkadang bermuka manis.
Mengenai tugas Rasulullah saww, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhah mengatakan:
“Sesungguhnya Allah SWT mengutus Muhammad saww dengan membawa kebenaran guna mengeluarkan hamba-Nya dari penyembahan sesamanya kepada penyembahan Alllah SWT ,dari perjanjian dengan hamba-Nya  menuju kesetiaan pada-Nya dan dari ketatan terhadap sesamanya menuju ketaatan kepada Tuhannya serta dari kepemimpinan sesamanya kepada kepemimpinan  Allah SWT.”
Dalam kesempatan yang lain, beliau juga mengatakan:
“Allah Swt. memilih para nabi dari keturunan Adam. Dia menjadikan wahyu sebagai perjanjian mereka, dan menjadikan penyampaian risalah sebagai amanat atas mereka. Sebab, sebagian besar hamba-Nya telah mengubah perjanjian Allah atas mereka. Sehingga mereka melupakan hak-Nya dan menjadikan banyak sekutu bagi-Nya, dan para setan menghalangi mereka dari mengenal-Nya dan memalingkan mereka dari ibadah kepada-Nya.
Kemudian Allah mengutus para rasul-Nya ke tengah-tengah mereka dan menebarkan para nabi-Nya di antara mereka untuk membawa mereka kepada perjanjian fitrah-Nya dan mengingatkan mereka terhadap nikmat-Nya yang terlupakan dan menantang mereka dengan tablig (bukti) dan membangkitkan akal mereka yang terpendam, dan memuaskan dahaga mereka dengan tanda-tanda kebesaran yang menakjubkan: atap (langit) di atas mereka yang menjulang, dan hamparan (bumi) yang diletakkan di bawah mereka, rezeki yang menghidupi mereka, ajal yang mengakhiri kehidupan mereka, dan keletihan (kesulitan) yang mendewasakan mereka serta pelbagai peristiwa yang silih berganti di antara mereka.
Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi yang diutus atau kitab yang diturunkan atau hujah (bukti) yang perlu, atau jalan yang lurus.
Para rasul yang sedikitnya jumlah mereka atau banyaknya pendusta mereka tidak membuat mereka teledor terhadap misi mereka. Rasul yang datang dahulu mengabarkan rasul yang datang sesudahnya dan rasul yang datang kemudian dikenal lantaran penjelasan rasul sebelumnya.
Berdasarkan hal itu abad demi abad berlalu dan silih berganti. Masa berakhir. Para orang tua meninggal dan anak-anak menggantikan (kedudukan mereka). Sehingga Allah mengutus Muhammad Rasulullah Saw. untuk menunaikan janji-Nya dan menyempurnakan berita-Nya.
Allah mengambil perjanjian-Nya atas para nabi. Dan tanda-tanda nabi (yang bersangkutan) begitu populer, dimana kelahirannya begitu mulia. Dan penduduk bumi saat itu memiliki beragam keyakinan, kepentingan yang komplek, kelompok-kelompok yang berpecah belah; di antara mereka ada yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, atau menisbatkan sifat yang tidak layak bagi-Nya, atau menyekutukan-Nya dengan tuhan lain, sehingga ia menyembahnya dan meminta tolong padanya.
Lalu dengan nabi itu, Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan mengentaskan mereka dari jurang kebodohan.
Kemudian Allah memutuskan agar Muhammad berjumpa dengan-Nya dan Dia ridha dengan apa yang ada padanya. Allah memuliakan Muhammad saat ia berpisah dari dunia dan mengakhiri cobaannya, dimana Dia mengangkatnya ke sisi-Nya dalam keadaan terhormat. Dan Allah meninggalkan bagi kalian para imam yang menggantikan para nabi. Sebab, para nabi tidak mungkin membiarkan umatnya berada dalam kesia-siaan tanpa jalan yang jelas dan tanpa seorang pembimbing yang mengurus urusan mereka. “

Diterjemahkan dari Kitab Al Hayat karangan Muhammad Ridha al Hakim, Muhammad al Hakim dan Ali al Hakim oleh Sy Muhammad Herman Al Muthahar.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar